Ramadan di Kala Pandemi

Posting Komentar
Konten [Tampil]
ramadan kala pandemi


Hai Tems. Ga terasa Ramadan sudah memasuki hari ke dua puluh. Ramadan kali ini menjadi Ramadan kedua yang kita jalani di masa pandemi COVID-19. MbaKrib ingat banget gimana sedihnya kita saat tahun lalu ga bisa salat jamaah di masjid untuk menghindari meluasnya penyebaran Corona. Selama puasa, kita juga berharap agar Corona segera berakhir supaya bisa berkumpul dengan keluarga saat lebaran. Tapi, hingga saat ini Corona masih setia menjadi bagian dari keseharian kita. 

Di kota tempat tinggal MbaKrib, Ramadan tahun ini keadaan sudah nyari kembali normal seperti sebelum Corona melanda. Pasar Ramadhn rame, sudah bisa jamaah di masjid, dan kegiatan sehari-hari berlangsung normal. Bedanya, masker selalu setia menutupi hidung dan mulut kemanapun kita pergi. 

Adanya pandemi Corona mengubah beberapa hal dalam keseharian kita. Inilah makna dari New Normal. Ada sebuah hal baru yang kemudian menjadi kebiasaan sehari-hari dan hal normal dalam hidup. Memakai masker contohnya. Kalau dulu, masker jarang banget dipakai, paling hanya digunakan saat batuk dan flu. Dan ga semua orang juga yang begitu. Namun kini semua orang memakai masker saat keluar rumah.

Sebenarnya, untuk MbaKrib puasa di saat pandemi atau tidak ga membawa perubahan besar. Karena memang ga ada kebiasaan khusus yang terhalang saat pandemi. MbaKrib bukan orang yang suka ngabuburit, ikut acar bukber dan aktivitas di luar rumah. Maklum, anaknya introvert. Jadi, ga terlalu berpengaruh sih.

Tapi, ada beberapa hal yang bikin sedih nih. Pertama saat tahun lalu ga bisa tarawih jamaah di masjid dan ga bisa salat Idul Fitri. Ramadan tanpa tarawih berjamaah dan Idul Fitri tanpa salat Ied itu bagaikan  sayur tanpa garam. Hambar. Kurang berasa semarak Ramadan dan Idul Fitrinya karena cuma diam-diam aja di rumah. Tapi, ga apa-apa. Menjaga diri dan orang sekitar dari penularan Corona kan juga hal yang wajib dilakukan. Dan Alhamdulillah, tahun ini kita udah bisa tarawih di masjid lagi.

Hal kedua yang bikin sedih adalah sepinya pembeli makanan. Biasanya kan selepas Ashar banyak banget yang jualan makanan untuk buka dan pembelinya buanyaak banget. Sampe bikin macet malah. Tapi, di saat pandemi gini, pembeli makanannya jadi berkurang. Ga sebanyak biasanya. Untuk alasan kesehatan dan higienitas, orang-orang lebih milih untuk memasak sendiri. Orang yang dagang pun juga ga mau bikin makanan banyak-banyak, takut ga habis.

Pandemi sudah lebih setahun menemani kita. Dan setiap harinya, kita tak putus berdoa agar Corona segera pergi dari negara kita tercinta ini. Biar kita ga perlu pakai masker lagi, biar sekolah dan kampus bisa mulai belajar lagi, biar yang jualan makin banyak pembelinya, biar ekonomi jalan lagi. Semoga di masa depan, ramadan kala pandemi ini bisa menjadi cerita baik. Tentang bagaimana kita tetap berusaha memaksimalkan ibadah saat Ramadan walaupun pandemi, tentang bagaimana kesabaran kita memakai masker dan tentang bagaimana kita menahan keinginan untuk bepergian keluar rumah serta tentang bagaimana kita patuh terhadap himbauan pemerintah.

Mumpung lagi Ramadan, jangan lupa berdoa agar pandemi Corona ini segera usai ya Tems. Jangan lupa juga untuk tetap disiplin pakai masker. 

Febrina
Hai, aku Febrina. Selamat menjelajah di ruang ceritaku

Related Posts

Posting Komentar