Kamu ada di Pihak Mana? Tentukan Posisimu

2 komentar
Konten [Tampil]

Hai Tems. Artikel ini adalah tulisan Hari Ke-30 Tantangan 30 Day Ramadan Challenge yang diadakan Blogger Perempuan.

Selamat Idul Fitri Tems. Taqabalallahu minna wa minkum. Semoga amal ibadah kita selama Ramadan diterima oleh Allah dan setelah Ramadan ini kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mohon maaf lahir dan batin Tems atas segala khilaf dan kurang MbaKrib dalam semua tulisan di blog selama ini. Mungkin ada kata-kata yang tidak seharusnya dan melukai perasaan, dari hati yang paling dalam MbaKrib mohon maaf. Semoga ke depannya artikel MbaKrib bisa lebih baik dan semakin bermanfaat untuk kamu.

Datangnya Idul Fitri selalu disambut dengan gembira. Kita melakukan banyak persiapan mulai dari bikin kue, beberes rumah dan masak hidangan untuk hari raya. Semua bersuka cita. Namun, ada hal sedih juga yang kita rasakan di Idul Fitri kali ini. Di akhir Ramadan ini, saudara-saudara kita di Palestina mendapat serangan dari Israel saat sedang melakukan salat tarawih. Mereka ditembak saat sedang salat. Bagaimana bisa Israel bertindak sedemikian bengisnya? Menembaki orang-orang yang sedang beribadah?

penyerangan palestina

Kita semua tahu, Palestina dijajah Israel. Israel yang dahulunya meminta perlindungan ke Palestina, kini menjajah negeri dan penduduk yang telah memberikan mereka perlindungan. Benar-benar tak tau malu ya? Dan setiap kali kita mendengar berita terbaru dari Palestina, kebanyakan adalah berita buruk. Palestina diserang. 

Rasanya campur aduk dan sedih luar biasa saat membaca berita penyerangan di akhir Ramadan kemarin. Banyak korban jiwa. Orang tua yang kehilangan anak, anak yang kehilangan orang tuanya, adik yang kehilangan kakak dan sebagainya. Setiap kali membaca berita Palestina, hati serasa ikut remuk mendengar kesedihan mereka. 

Malam takbiran kemarin, MbaKrib menonton IGTV seorang komika yaitu Abdur Arsyad. Kalau kamu pernah nonton sitkom OK-Jek, kamu pasti kenal dengan Abdur. Dalam IGTV-nya mas Abdur ini bercerita kenapa kita harus peduli dengan perjuangan saudara di Palestina? Kenapa kita harus sibuk ngurusin masalah yang jauh di luar negeri sana, padahal di sekeliling kita juga banyak masalah yang terjadi? Kenapa ga ngurusin yang dekat dulu?

Jadi gini Tems. Setiap kita pasti punya masalah. Orang-orang dan lingkungan sekitar kita juga ada masalah. Begitu juga dengan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia yang lain. Nah, masalah yang ada itu bukan untuk dibenturkan atau dibanding-bandingka. Mencari masalah mana yang paling berat. Ini bukan kontes. Masalah yang ada harus dicarikan solusinya, harus ditemukan jalan keluarnya. Bukan saling dibandingkan. 

Apakah kita tidak merasa sedih melihat perjuangan dan penderitaan saudara kita di Palestina sana? Sekian tahun hidup penuh ketakutan, tidak bisa hidup dengan tenang dan sewaktu-waktu bisa saja diserang Israel. Dalam IGTV-nya, Mas Abdur menceritakan tentang bagaimana kita "Menentukan posisi". Saat ada kezaliman yang dilakukan terhadap saudara-saudara kita, apa yang kita lakukan? Apakah membiarkan, diam tak mau tahu atau mencoba melakuka yang terbaik untuk menghentikan kezaliman itu?

"Ngapain sih sibuk ngurusin Palestina, toh PBB aja ga digubris ama Israel".Mungkin ada beberapa orang yang berpikiran seperti itu. Tems, ini bukan soal bisa menghentikan kezaliman itu atau tidak. Ini tentang keberpihakan kita. Kemana kita berpihak saat melihat penindasan yang mereka alami? Mungkin suara kita ga akan sampai pada para petinggi Israel, mungkin donasi kita hanya bisa meringankan sedikit beban mereka, mungkin tweet-tweet kita hanya akan menjadi trending topik dalam beberapa hari. Tapi itu adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini. Kita menyuarakan dan membuat orang lain paham dengan penindasan yang terjadi di sana.

Bukankah tentang keberpihakan ini pernah Allah ceritakan dalam kisah Nabi Ibrahim as. Waktu itu Nabi Ibrahim as, dibakar hidup-hidup oleh raja Namrud. Dan seekor semut yang melihat kejadian itu ingin ikut memadamkan api. Ia membawa air dengan mulutnya, dan menumpahkan air tersebut ke atas api yang membakar Nabi. Dia kerjakan hal itu berulang-ulang.

Hingga ada burung yang bertanya "Kenapa kau susah payah membawa air dengan mulutmu? Padahal kau tak bisa memadamkan api dengan setetes air"

"Memang benar aku tidak bisa memadamkan api dengan setetes air ini. Namun, ini menunjukkan keberpihakanku", kata semut.

Dari kisah itu, kita bisa melihat Allah SWT tidak menuntut kita untuk bisa menyelesaikan konflik Palestina-Israel ini. Tapi Allah ingin melihat ke arah mana keberpihakan kita. Apa yang sudah kita lakukan untuk membantu mereka. Sejauh mana ikhtiar kita. Karena, Allah hanya meminta kita untuk meberikan usaha terbaik dan Allah yang akan menentukan hasilnya.

Ada satu kalimat yang diucapkan Mas Abdur yang tergiang di telinga. Kalimatnya kurang lebih begini.

Bukankah dalam hidup ini kita mengumpulkan jawaban-jawaban untuk pertanyaan akhirat nanti.

Kalimat itu sangat membekas bagi MbaKrib. Ketika di akhirat nanti dan kita sampai pada hari penghakiman, bukankah kita akan dimintai pertanggungjawaban terhadap semua hal yang kita lakukan? Apa yang kita lakukan terhadap kezaliman yang terjadi di depan mata? Lalu, masih sanggupkah kita bersikap masa bodoh dan tak mau tahu? Sanggupkah kita bertanggung jawab atas sikap masa bodoh dan tak acuh selama ini?

Tems, mari kita lakukan yang terbaik untuk membantu saudara-saudara kita yang tengah mengalami penindasan. Tidak hanya saudara muslim di Palestina, tapi juga saudara kita di Suriah dan Rohingya. Kita bisa bantu donasi, meningkatkan awareness dengan tulisan dan postingan kita di internet dan sosial media serta mendoakan mereka. Jangan abaikan mereka. 

Febrina
Hai, aku Febrina. Selamat menjelajah di ruang ceritaku

Related Posts

2 komentar

  1. Halo mbakrib ...
    Waah, urang awak rupanya, salam kenal yaa ...

    Baca tulisan ini membuat hati makin teriris. Perih. Sedih. Tapi, sekaligus, mengingatkan diri bahwa dukungan bisa kita lakukan dengan banyak cara. Salah satunya dengan menulis artikel tentang kekejaman Israel terhadap Palestina.

    BalasHapus

Posting Komentar